Jakarta, infosekayu.com , Begitu cepat dan mudahnya persebaran informasi hari ini. Ihwal pengumuman awal Ramadan hasil sidang isbat Kementerian Agama (Kemenag) RI, misalnya, masyarakat bisa menerimanya secara langsung tanpa selisih waktu berarti.

Siaran televisi, unggahan konten media daring, aktivitas media sosial, jejaring komunikasi yang serba terhubung makin mendorong gesitnya distribusi informasi.



Berbeda dengan masyarakat di masa lalu yang butuh cukup waktu untuk mendapatkan informasi tertentu. Pengumuman awal bulan puasa, tidak semuanya bisa mendengar langsung dari Pemerintah Kolonial Belanda.

Urusan sidang isbat pada masa itu, diserahkan kepada Perhimpoenan Penghoelo dan Pegawainya (PPDP) atau lebih dikenal Hoofdbestuur. Eksistensi mereka terekam dalam Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) edisi 1 November 1937 yang memuat maklumat Auwal Ramadlan 1356 H.



"Dari Hoofdbestuur Perhimpoenan Penghoeloe dan Pegawainya (PPDP) kami terima ma’loemat dalam mana diterangkan bahwa soedah diterima report dari Hoofd-Penghoeloe Boitenzorg dan Tasikmalaja bahwa di Bogor ada tiga orang saksi ro’jah dan di Tasikmalaja ada dua orang saksi ro’jah jg bersama2 melihat tanggal satoenja boelan Sja’ban pada hari Rebo 5/6 October ’37, maka oleh karena Java dan Madoera itoe satoe mathla’, maka PPDP menetapkan bahwa:

a. Awal Sja’ban pada hari Rebo 6 October ’37.

b. Moelai poeasa (dengan menjempoernakan Sja’ban 30 hari) djatoeh hari Djoemah 5 November 37 (djadi kalau malam Chemis roe’jah maka permoelaan poeasa djatoeh hari Chemis 4 November –Red. B. N. O)

c. Dan hari raja Idulfithri djatoeh hari Achad 5 Desember 1937 tetapi djikalau roe’jah malam Sabtoe maka hari raja djatoeh hari Sabtoe. Sekianlah jg perloe kami koetib.



Bom puasa

Sekali lagi, tidak semua orang di masa lampau karib dengan koran. Pengumuman resmi pemerintah itu, lantas dibawa Hofd Penghoeloe ke daerah-daerah. Itu pun belum cukup, guna menandai berita puasa lebih cepat sampai, dibentuklah komite khusus yang ditugasi untuk menyalakan bom, meriam, atau bebunyian lainnya.

"Tjab. N. O. Djember melangsoengkan rapat pengoeroes oentoek pemasangan bom dalam boelan poeasa, dipoetoeskan itoe oeroesan diserahkan dalam tangannya Sdr. Abdussamad Kebon, K. H. Dzofir dan Sdr. M. Ismail Soemowondijo," sebagaimana diberitakan BNO edisi puasa itu.

Tidak cuma di Jawa, surat kabar De Sumatra Post edisi 5 November 1937 juga memberitakan bahwa bunyi-bunyian penanda masuknya bulan Ramadan itu sudah diperdengarkan. 

"Permulaan Poeasa. Tadi malam terdengar dari halaman istana Maimoen (Maimoenpaleis) tiga kali tembakan meriam. Untuk Islamis, khususnya dibawah dari ZH. Sultan Deli ini berarti bahwa tanggal, bulan puasa, Ramadhan telah dimulai." (iz)
Share To:

Post A Comment: