Articles by "Lingkungan Hidup"
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan

INFOSEKAYU.COM - Masih adanya oknum warga yang menebar racun dan melakukan penyetruman ikan di sejumlah daerah di Kabupaten Musi Banyuasin membuat Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin merasa miris.



Oleh sebab itu Dodi menginstruksikan pihak terkait, khususnya Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) dan Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan pencegahan dan melakukan edukasi kepada masyarakat.

"Mengingat, penangkapan ikan seperti penyebaran racun dan tindakan penyetruman ikan sangat tidak baik, dan merugikan kita semua. Hal ini saya dapatkan berdasarkan keluhan warga yang hidup di pinggiran sungai, bahwa di beberapa tempat ada oknum oknum yang tidak bertanggung jawab melakukan kegiatan penangkapan ikan dengan cara-cara yang dilarang oleh Pemerintah dan itu pelanggaran Undang-undang," jelas Bupati.

Secara terpisah Kepala Dinas PMD Richard Cahyadi menyatakan bahwa, "Untuk pencegahan awal  kita akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait dan untuk melakukan sosialisasi dan mengedukasi warga. Ke depan, jika tahapan pencegahan yang terus kita lakukan masih juga dilanggar dan kedapatan melakukan penyetruman ikan dan meracuni sungai untuk mendapatkan ikan tentunya akan kita proses sesuai hukum yang berlaku," sebut Richard.

Mengingat dampak putas dan strum, lanjutnya, selain merusak lingkungan akibat penggunaan merkuri, tentunya biota air yang di dalam sungai juga lama-lama akan punah dan tentu sangat merugikan.

Selain itu, tindakan tersebut akan dikenakan UU Nomor 45 Tahun 2009 dengan ancaman kurungan 5 tahun dan denda 100 juta.

"Harusnya warga sadar, kalau menyetrum dan meracuni itu dapat merusak lingkungan dan biota yang ada di sungai, serta akan berdampak bagi kita semua," cetusnya.

Ia menambahkan, pihak Dinas PMD juga dalam waktu dekat akan turun ke Desa-Desa dan ke lokasi yang sering dijadikan oknum warga untuk meracuni dan menyetrum ikan.

"Tindakan pertama yang akan dilakukan Dinas PMD memberikan pemahaman dan edukasi kepada warga, bahwa tindakan menyetrum serta meracuni ikan itu tidak diperbolehkan dan merusak lingkungan," dan warga yang tertangkap melakukan pelanggaran diabuat surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatan yang sama jelasnya.

Selain Richard menambahkan dampak dari tindakan menyetrum dan meracuni ikan juga berdampak pada hasil lelang lebak lebung turun tiap tahunnya. "Coba pikirkan, kalau ini terus terjadi banyak masyarakat yang dirugikan," dan ini juga merupakan keluhan dari pengemin lelang yang selama ini mengeluh karena hasil di objek lelang mereka ikan sudah menurun drastis urainya.

Sementara itu, salah satu warga Sekayu, Madon (31) berharap kepada pihak terkait segera menindak para pelaku yang sering meracuni dan menyetrum ikan.

"Saya apresiasi respon pak Bupati terhadap persoalan ini, memang harus ditindaklanjuti, kalau tidak tentu ke depan akan sangat merusak lingkungan dan mengancam keberadaan ikan ikan  yang ada di Sungai," ungkap Madon.

Ia menambahkan, pelaku harus ditindak tegas supaya memberikan efek jera kepada oknum warga lainnya yang sering meracuni dan menyetrum ikan. "Kami warga sangat mendukung upaya pak Bupati dan Pemda Muba untuk mengatasi hal ini, memang perlu tindakan tegas dan nyata," pungkasnya. /red/



INFOSEKAYU.COM - Setelah dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang besar pada 2015 lalu, kini Kabupaten Musi Banyuasin di bawah komando Bupati Dodi Reza Alex Noerdin terus berbenah dan melakukan inovasi dan terobosan dalam menjaga lingkungan dan mengimplementasikan pembangunan hijau yang berkelanjutan.


Bupati Muba, Dodi Reza Alex Noerdin di hadapan 300 partisipan dari 45 negara, yang merupakan anggota World Network of Biosphere Reserve (WNBR) dari Asia, Australia, Afrika dan Amerika serta perwakilan kantor utama UNESCO di Paris memaparkan upaya-upaya yang sudah dilakukan Pemkab Muba dalam menjaga lingkungan dan menjalankan pembangunan hijau yang berkelanjutan serta menjaga cagar budaya berbak Taman Sembilang.

"Banyak yang sudah kita lakukan dalam mewujudkan untuk menjaga lingkungan dan hutan yang ada di Muba. Melalui sidang ke-30 dari The Man and Biosphere International Co-ordinating Council (MAB-ICC) UNESCO ini kita bisa bertukar pikiran dengan negara-negara lain," ungkapnya saat closing speech 30th Session of the International Co-ordinating Council of the Man and the Biosphere Programme, Jumat di Hotel Novotel (28/7/2018).

Pada kesempatan tersebut, alumni Universite Libre de Bruxelles - Belgia ini juga mengajak partisipan World Network of Biosphere Reserve (WNBR) untuk field trip atau berkunjung ke Kabupaten Muba.

"Kalau berkunjung langsung, nanti akan kami perlihatkan upaya-upaya menjaga lingkungan yang sudah dilakukan dan terobosan-terobosan yang akan dilakukan," bebernya.

Selain itu, Dodi juga memaparkan komitmen Pemerintah daerah yang bersama-sama Pemerintah Provinsi Sumsel dalam menjaga kawasan Berbak kawasan nasional taman Sembilang.

"Sudah kita ketahui bahwa kawasan Taman Sembilang ini merupakan taman nasional yang mendapat pengakuan dari UNESCO, dan selama ini sangat dijaga Pemerintah Daerah," ulasnya.

Sementara itu, dalam sidang ke-30 MAB-ICC, Indonesia mengharapkan menambah tiga wilayah sebagai cagar biosfer baru. Ketiga wilayah yang dinominasikan adalah Berbak Sembilang (Sumsel-Jambi), Betung Kerihun Danau Sentarum, serta Kapuas Hulu dan Rinjani-Lombok.

“Kami berharap tiga nominasi ini bisa disetujui dan ditetapkan oleh UNESCO sebagai cagar biosfer baru, sehingga menambah 11 cagar biosfer yang telah ada di Indonesia. Dan juga menambah cagar biosfer yang ada di dunia di mana saat ini sudah terdapat 669 cagar biosfer yang tersebar di 120 negara di dunia,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Prof. Dr. Enny Sudarmonowati yang juga merupakan Ketua Komite Nasional MAB UNESCO.

Lanjut Enny menuturkan bahwa, fokus utama pertemuan itu adalah untuk membahas dan mengembangkan sistem pengelolaan cagar biosfer yang efektif dan efisien dalam kerangka program MAB sebagai wahana implementasi dan terwujudnya pembangunan berkelanjutan.

Selain itu, sidang kali ini juga memberi kesempatan bagi Indonesia untuk membuktikan adanya pengakuan dan peran Indonesia sebagai negara kaya sumber daya alam hayati di dunia.



“Momen ini juga menjadi ajang promosi keunggulan Indonesia dalam pengembangan cagar biosfer untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dan kelestarian sumber daya hayati dan ekosistemnya, yang berbasis multi pihak dan lintas sektoral,” jelas Enny.

Intisari utama yang diusung dalam pertemuan MAB-ICC ini adalah usaha yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan dan menguatkan peran dari berbagai pemangku kepentingan: pemerintah, sektor swasta, publik, universitas, lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk membangun rencana pengelolaan cagar biosfer dalam rangka wewujudkan pembangunan berkelanjutan. /red/



Usung Tema #IndonesiaInnovate 

INFOSEKAYU.COM - Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) bekerjasama dengan South Sumatera Landscape Festival 2018 (SSLF2018) dan Program International Human, dan Biosphere serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan UNESCO bakal mengadakan kegiatan Festival Kabupaten Lestari (FKL) 2018 pada 23-27 Juli mendatang, dan bertindak sebagai tuan rumah yakni Kabupaten Musi Banyuasin.



FKL 2018 ini akan melibatkan seluruh Kabupaten anggota pendiri LTKL yakni Musi Banyuasin, Rokan Hulu, Siak, Batanghari, Labuan Batu Utara, Sintang, Sanggau dan Sigi serta sejumlah Kabupaten mitra seperti Gorontalo, Aceh Timur dan Tambraw.

"Pada rangkaian ini nantinya akan dipamerkan inovasi karya anak bangsa," ungkap Ketua Pelaksana FKL 2018 yang juga Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muba, Andi Wijaya Busro di sela konferensi pers di Kantor Perwakilan Muba di Palembang, Kamis (19/7/2018).

Dijelaskan, beberapa contoh inovasi yang berhasil lolos seleksi untuk ditampilkan pada sesi Temu Inovasi #IndonesiaInnovate adalah inovasi teknologi seperti mesin pengering ikan dari Kopernik, inovasi dari tapak seperti skema hutan desa bentang pesisir padang tikar di Kubu Raya, Kalimantan Barat yang memiliki skema proteksi dan produksi dalam mendukung kesejahteraan masyarkat dan keberlanjutan lingkungan.
 

"Selain itu, inovasi mitra seperti ‘GFW Commodities’ yakni sebuah platform dari WRI Indonesia yang dapat digunakan untuk memantau potensi kerusakan lingkungan di rantai pasok kelapa sawit untuk menuju pertumbuhan ekonomi kabupaten secara lestari," bebernya.

Ia berharap, ajang Festival ini bisa mendorong kolaborasi jangka panjang yang konkrit."Kami menyusun format yang unik untuk mempertemukan berbagai inovasi karya anak bangsa yang harapannya bisa langsung diaplikasikan sebagai solusi bagi kabupaten dan pemangku kepentingan yang hadir," harapnya.

Sementara itu, Perwakilan Jejaring Mitra LTKL di Kabupaten Musi Banyuasin Hutan Kita Institute (HAKI), Adiosyafri berharap dengan terselenggaranya acara ini dapat membantu Kabupaten LTKL untuk mendapatkan pemahaman konkrit bagaimana menciptakan, mengembangkan, dan mendorong suatu inovasi untuk dapat direplikasi dan ditingkatkan serta dapat diaplikasikan ke pasar.

"Pembangunan berkelanjutan perlu dukungan oleh seluruh kabupaten, festival kabupaten lestari ini juga untuk mendukung kabupaten agar lebih lestari, dengan ekonomi yang meningkat dan memiliki sumber daya yang baik," pungkasnya. /red/