Articles by "Nasional"
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

INFOSEKAYU - Saat ini sedang viral seorang bayi di Bekasi diberi nama Google oleh orangtuanya.


Dilansir dari wartakota.com, Google merupakan anak kedua dari pasangan suami istri bernama Andi Cahya Saputra (31) dan Ella Karina (27).

Mereka tinggal di rumah kontrakan di Gang Jereng, No 62, RT 02 RW 41 Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi.

Kabid Pencatatan Sipil Disdukcapil Kota Bekasi, Oke Kusmayadi membenarkan ada bayi diberi nama Google. Google lahir pada tanggal 30 November 2018 di Bekasi.

"Iya betul ada bayi nama Google, bayi itu jenis kelamain laki-laki," katanya saat dikonfirmasi, Jumat (21/6/2019).

Oke menjelaskan bayi itu anak dari pasangan suami istri bernama Andi Cahya Saputra dan Ella Karina.

"Akte terdaftar di Kantor Disdukcapil Kora Bekasi, dia tinggal di RT 02 RW 41 Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu," ungkapnya.

Sementara itu, orangtua Google tak tahu nama anaknya jadi viral di media sosial.

Pasalnya, anaknya sudah lahir 6 bulan lalu dan baru viral beberapa hari ini.

"Saya engga tahu tiba-tiba viral di akun Instagram Lambe Turah," kata Ella ibu kandung Google.

Ella mengungkapkan kemungkinan viralnya nama anaknya tersebut dikarenakan ketika itu banyak temannya yang bertanya soal nama anaknya ketika baru lahir.

"Saya kan suka update foto sama Google di facebook, terus ada teman yang tanya itu anaknya namanya siapa, saya jawa Google tapi mereka engga percaya," ucapnya.

"Terus saya foto akte kelahirannya, mungkin dari situ menyebar dan jadi viral," kata Ella.

Ella menuturkan adapun pemberian nama itu dilakukan oleh sang suami.

Usai melahirkan, dirinya bahkan tak mengetahui jika anaknya itu akan diberi nama Google oleh suaminya.

Pasalnya, semua yang mengurus surat kelahiran dengan bidan atau pihak klinik ialah suaminya.

"Saya engga tahu, pas datang ke saya suami langsung bilang anak kita dikasih nama Google. Saya sempat nolak, tapi suami jelaskan akhirnya saya terima," katanya saat ditemui Wartakota, Jumat (21/6/2019).

Terlebih kata Ella, dalam perjanjian untuk anak kedua ini pemberian nama sepenuhnya dari sang suami.


"Kalau anak pertama kan Kinanti usia 4 tahun, itu saya yang kasih nama. Kalau anak kedua giliran dia (suami)," ucapanya.

Padahal, Ella menuturkan dirinya sudah memiliki nama anaknya yakni Al Barsya ketika usia kandungan 8 bulan dan suaminya sudah menyetujuinya.

Akan tetapi, saat lahiran sang suami memutuskan berbeda dengan memberi nama Google.

Suami Ella bernama Andi bekerja sebagai pegawai di perusahaan pembasmi hama. Namun, kesehariannya sang suami seringkali membuat konten youtube dan bermain Media Sosial.

Itu menjadi awal anaknya diberi nama Google oleh sang suami.

"Waktu kehamilan saya, dia (Andi) sering bikin video Youtube. Buat konteng iseng-iseng lucu lucuan gitu. Sering main media sosial. Ya mungkin dari situ tercetus nama Google," jelas dia.

Pemberian nama Google, diharapkan agar kelak anaknya bisa menjadi pemimpin dan memiliki banyak pengikut.

"Google kan nomor satu di dunia situs yang paling banyak dikunjungi orang. Google juga banyak pengikutnya dan apa-apa pasti harus google," kata Ella.

Saat anaknya diberikan nama Google kerabat sempat menentangnya karena nama itu dianggap tak lazim.

"Mertua saya atau ayah suami nentang keras minta diubah nama cucunya," ujarnya saat ditemui Wartakota di rumahnya, Jumat (21/6/2019).

Akan tetapi, sang suami terus memberikan pemahaman kepada ayahnya mengenai alasan pemberian nama Google.

"Akhirnya lama-lama mengerti setelah dijelaskan perlahan alasan diberi nama Google," ucapnya.

Tak hanya mertua, saudara lainnya juga sempat menuding keduanya asal memberi nama anaknya.

"Bilang jangan aneh-aneh deh, masa nama anak Google. Engga ada nama panjangnya lagi, Google tok (aja)," ujarnya. /red/

Sumber : Tribun Sumsel


INFOSEKAYU- Istri Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Ani Yudhoyono meninggal dunia usai menjalani perawatan medis beberapa bulan di National University Hospital (NUH), Singapura, pada Sabtu (1/6/2019) pukul 11.50 waktu Singapura. Ani meninggal karena penyakit kanker darah yang diderita.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un, Bu Ani telah meninggal dunia pada 11.50 waktu Singapura," ujar Wasekjen Demokrat, Andi Arief lewat akun Twitter.

Kabar duka ini juga dikonfirmasi oleh jurnalis CNN Indonesia TV, Eva Yunizar Julianti, yang saat ini berada di Singapura.

Ani pertama kali dirawat karena kanker darah pada 2 Februari 2019. Selama menjalani pengobatan, Ani selalu didampingi oleh SBY. Anak dan menantunya pun silih berganti menjaga Ani.

Sebelum dinyatakan meninggal, Ani sudah beberapa kali menjalani tindakan medis, salah satunya transplantasi sumsum tulang belakang yang didonorkan oleh adiknya, yakni Pramono Edhie Wibowo.

Namun, operasi tersebut tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap kesembuhan Ani. Bahkan, Ani sempat mendapat perawatan intensif di ICU beberapa hari usai operasi.

Selain keluarga, dukungan bagi Ani juga datang dari sejumlah pihak, salah satunya dari Presiden Joko Widodo.

Selain menjenguk langsung, Jokowi dikabarkan telah memerintahkan dokter kepresidenan berkoordinasi dengan dokter NUH untuk menangani Ani.

Selanjutnya, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dan wakilnya Teo Chee Hean juga pengah menjenguk Ani di NUH.

Keduanya terlihat bertemu dan menyemangati Ani yang terbaring di dalam ruangan khusus.

Mantan presiden Timur Leste Xanana Gusmao juga sempat menjenguk Ani.

Sejumlah tokoh nasional juga tercatat pernah menjenguk Ani di Singapura, seperti Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, Sinta Nuriyah, Boediono, Khofifah Indar Parawansa, Anies Baswedan, Syafruddin, Agus Martowardojo, Sri Mulyani, Mahfud MD, hingga Dahlan Iskan.

Ani meninggal di usia 66 tahun. Perempuan kelahiran Yogyakarta ini merupakan putri dari mantan Panglima RPKAD Letnan Jenderal purnawirawan Sarwo Edhie Wibowo.

Ani sempat menempuh pendidikan sebagai mahasiswi kedokteran Universitas Kristen Indonesia sebelum mengundurkan diri karena mengikuti ayahnya bertugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan.

Dalam karir politik, Ani tercatat pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Demokrat. /red/

Sumber : CNN Indonesia


INFOSEKAYU - Setelah sempat dibatasi, akses WhatsApp dan media sosial kembali normal. Hal ini dipastikan langsung oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara.


"Situasi kerusuhan sudah kondusif sehingga pembatasan akses fitur video dan gambar pada media sosial dan instant messaging dicabut. Insya Allah antara jam 14.00 - 15.00 WIB sudah bisa normal," ujar Rudiantara saat dihubungi detikINET, Sabtu (25/5/2019).

"Saya mengajak semua masyarakat pengguna media sosial, instant messaging maupun video file sharing untuk senantiasa menjaga dunia maya Indonesia digunakan untuk hal-hal yang positif. Ayo kita perangi hoax, fitnah, informasi-informasi yang memprovokasi seperti yang beredar saat kerusuhan," lanjut pria yang kerap disapa RA itu.

Untuk diketahui, pembatasan sementara akses ke medsos dan layanan messaging berlaku sejak Rabu (22/5). Saat itu, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto memberi gambaran berapa lama hal itu dilakukan.

"Pembatasan akses sosial media dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Kami ingin masyarakat mendapatkan informasi yang akurat. Jadi berkorban 2-3 hari tidak bisa lihat gambar tidak apa-apa, ini semata-mata untuk keamanan nasional," sebutnya dalam konferensi pers Rabu (22/5) lalu.

Sementara itu, Rudiantara menjelaskan ada enam layanan yang aksesnya dibatasi saat ini, yakni Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, Line, dan WhatsApp. 

Ada pun yang dibatasi pada dasarnya hanya sebatas gambar dan video saja, sementara teks dan panggilan telepon tetap bisa digunakan pada keenam layanan itu.

Upaya pembatasan ini dilakukan untuk mengurangi provokasi dari aksi yang terjadi beberapa hari lalu. Mengacu pada faktor psikologis, emosi masyarakat gampang tersulut setelah melihat foto dan video. 

"Sistem komunikasi voice (suara) nggak masalah. Yang kita freeze-kan (bekukan) sementara yang tidak diaktifkan itu video, foto dan gambar. Karena secara psikologi video dan gambar itu bisa membangkitkan emosi," jelasnya.

"Kalau teks orang akan membaca dulu, ada kesempatan berpikir, menilai benar atau salah, sesuai hati nurani atau tidak," pungkas Rudiantara. /red/

Sumber : detikinet


JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) menuntaskan rekapitulasi nasional hasil Pilpres 2019. Pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin ditetapkan menjadi pemenang Pilpres 2019.



"Jumlah suara sah pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin 85.607.362 suara. Jumlah suara sah pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 68.650.239," ujar komisioner KPU Evi Novida Ginting Manik dalam rapat pleno KPU di gedung KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2019) dini hari.

Hasil pilpres itu ditetapkan dalam keputusan nomor 987. Hasil rekapitulasi KPU secara nasional ini terdiri atas perolehan suara di 34 provinsi dan 130 panitia pemilihan luar negeri (PPLN).

KPU menyebut jumlah suara sah nasional 154.257.601. Jumlah suara sah pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin 85.607.362 atau 55,50 persen dari total suara sah nasional.

Jumlah suara sah pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 68.650.239 suara atau 44,50 persen dari total suara sah nasional.

Ketua KPU Arief Budiman kemudian membacakan keputusan hasil rekapitulasi nasional pilpres, pemilihan anggota DPR, anggota DPRD, dan anggota DPD. Arief langsung mengetok palu tanda penetapan hasil rekapitulasi.

Rapat pleno ini langsung diumumkan setelah KPU melakukan rekapitulasi empat provinsi terakhir. Pleno ini dihadiri seluruh komisioner KPU, Ketua Bawaslu Abhan, dan semua anggota Bawaslu.

Saksi dari parpol pendukung Jokowi-Ma'ruf yang hadir adalah I Gusti Putu Artha, sedangkan dua orang saksi dari Prabowo-Sandi adalah juru debat BPN Ahmad Riza Patria dan Aziz.

Seperti diketahui, Jokowi-Ma'ruf unggul di 21 provinsi, yang terdiri atas Gorontalo, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Bali, Sulawesi Barat, Yogyakarta, Kalimantan Timur, Lampung. Selanjutnya pasangan nomor urut 01 itu menang di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah.

Kemudian Jokowi-Ma'ruf unggul di Jawa Timur, NTT, Jawa Tengah, Kepulauan Riau, Papua Barat, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Maluku, dan Papua.

Sementara itu, 13 provinsi lainnya dikuasai pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Paslon 02 masih bisa mengajukan sengketa hasil Pilpres ini ke MK. Jika dalam tiga hari setelah berakhirnya batas waktu pengujian keberatan penetapan hasil Pemilu ke MK, tidak ada sengketa yang diajukan, maka KPU dapat menetapkan Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2019-2024. /red/

Sumber : detikcom

Berikut Hasil Rekapitulasi Nasional Pilpres 2019 di 34 Provinsi :

1. Bali
Pasangan 01: 2.351.057
Pasangan 02: 213.415

Jumlah suara sah: 2.564.472
Suara tidak sah: 52.338
Jumlah seluruh suara sah dan tidak: 2.616.810

2. Bangka Belitung
Pasangan 01: 495.729
Pasangan 02: 288.235

Jumlah suara sah: 783.964
Suara tidak sah: 22.927
Jumlah seluruh suara sah dan tidak: 806.891

3. Kalimantan Utara
Pasangan 01: 248.239
Pasangan 02: 106.162

Jumlah suara sah: 354.401
Suara tidak sah: 4.840
Jumlah seluruh suara sah dan tidak sah: 359.241

4. Kalimantan Tengah
Pasangan 01: 830.948
Pasangan 02: 537.138

Jumlah suara sah: 1.368.086
Suara tidak sah: 3.3612
Jumlah seluruh suara sah dan tidak: 1.401.698

5. Gorontalo
Pasangan 01: 369.803
Pasangan 02: 345.129

Jumlah suara sah: 714.932
Suara tidak sah: 8.148
Jumlah seluruh suara sah dan tidak: 723.080.

6. Bengkulu
Pasangan 01: 583.488
Pasangan 02: 585.999

Jumlah suara sah: 1.169.487
Suara tidak sah: 26.862
Jumlah suara sah dan tidak sah: 1.196.349

7. Kalimantan Selatan
Pasangan 01: 823.939
Pasangan 02: 1.470.163

Jumlah suara sah: 2.294.102
Suara tidak sah: 88.001
Jumlah suara sah dan tidak sah: 2.382.103

8. Kalimantan Barat
Pasangan 01: 1.709.896
Pasangan 02: 1.263.757

Jumlah suara sah: 2.973.653
Suara tidak sah: 56.256
Jumlah suara sah dan tidak sah: 3.029.909

9. Sulawesi Barat
Pasangan 01: 475.312
Pasangan 02: 263.620

Jumlah Suara Sah: 738.932
Suara Tidak Sah: 12.147
Jumlah Suara Sah dan Tidak Sah: 751.079

10. Yogyakarta
Pasangan 01: 1.655.174
Pasangan 02: 742.481

Jumlah Suara Sah: 2.397.655
Suara Tidak Sah: 52.024
Jumlah Suara Sah dan Tidak Sah: 2.449.679

11. Kalimantan Timur
Pasangan 01: 1.094.845
Pasangan 02: 870.443

Jumlah suara sah: 1.965.288
Suara tidak sah: 37.993
Jumlah suara sah dan tidak sah: 2.003.281

12. Lampung
Pasangan 01: 2.853.585
Pasangan 02: 1.955.689

Jumlah suara sah: 4.809.274
Suara tidak sah: 86.311
Jumlah suara sah dan tidak sah: 4.895.585

13. Maluku Utara
Pasangan 01: 310.548
Pasangan 02: 344.823

Jumlah suara sah: 655.371
Suara tidak sah: 10.243
Jumlah suara sah dan tidak sah: 665.614

14. Sulawesi Utara
Pasangan 01: 1.220.524
Pasangan 02: 359.685

Jumlah Suara Sah: 1.580.209
Suara Tidak Sah: 14.096
Jumlah Suara Sah dan Tidak Sah: 1.594.305

15. Jambi
Pasangan 01: 859.833
Pasangan 02: 1.203.025

Jumlah Suara Sah: 2.062.858
Suara Tidak Sah: 48.470
Jumlah Suara Sah dan Tidak Sah: 2.111.328

16. Sulawesi Tengah
Pasangan 01: 914.588
Pasangan 02: 706.654

Jumlah Suara Sah: 1.621.242
Suara Tidak Sah: 18.821
Jumlah Suara Sah dan Tidak Sah: 1.640.063

17. Jawa Timur
Pasangan 01: 16.231.668
Pasangan 02: 8.441.247

Jumlah suara sah: 24.672.915
Suara tidak sah: 838.326
Jumlah suara sah dan tidak sah: 25.511.241

18. NTT
Pasangan 01: 2.368.982
Pasangan 02: 305.587

Jumlah suara sah: 2.674.569
Suara tidak sah: 43.895
Jumlah suara sah dan tidak sah: 2.718.464

19. Sumatera Selatan
Pasangan 01: 1.942.987
Pasangan 02: 2.877.781

Jumlah suara sah: 4.820.768
Suara tidak sah: 117.817
Jumlah suara sah dan tidak sah: 4.938.585

20. Sulawesi Tenggara
Pasangan 01: 555.664
Pasangan 02: 842.117

Jumlah Suara Sah: 1.397.781
Suara Tidak Sah: 27.625
Jumlah Suara Sah dan Tidak Sah: 1.425.406

21. Jawa Tengah
Pasangan 01: 16.825.511
Pasangan 02: 4.944.447

Jumlah Suara Sah: 21.769.958
Suara Tidak Sah: 606.514
Jumlah Suara Sah dan Tidak Sah: 22.376.472

22. Sumatera Barat
Pasangan 01: 407.761
Pasangan 02: 2.488.733

Jumlah Suara Sah: 2.896.494
Suara Tidak Sah: 40.225
Jumlah Suara Sah dan Tidak Sah: 2.936.719

23. Kepulauan Riau
Pasangan 01: 550.692
Pasangan 02: 465.511

Jumlah Suara Sah: 1.016.203
Suara Tidak Sah: 14.665
Jumlah Suara Sah dan Tidak Sah: 1.030.868

24. Banten
Pasangan 01: 2.537.524
Pasangan 02: 4.059.514

Jumlah Suara Sah: 6.597.038
Suara Tidak Sah: 194.128
Jumlah Suara Sah dan Tidak Sah: 6.791.166

25. Aceh
Pasangan 01: 404.188
Pasangan 02: 2.400.746

Jumlah Suara Sah: 2.804.934
Suara Tidak Sah: 83.326
Jumlah Suara Sah dan Tidak Sah: 2.888.260

26. NTB
Pasangan 01: 951.242
Pasangan 02: 2.011.319

Jumlah Suara Sah: 2.962.561
Suara Tidak Sah: 78.125
Jumlah Suara Sah dan Tidak Sah: 3.040.686

27. Jawa Barat
Pasangan 01: 10.750.568
Pasangan 02: 16.077.446

Jumlah Suara Sah: 26.828.014
Suara Tidak Sah: 648.065
Jumlah Suara Sah dan Tidak Sah: 27.476.079

28. DKI Jakarta
Pasangan 01: 3.279.547
Pasangan 02: 3.066.137

Jumlah suara sah: 6.345.684
Jumlah tidak sah: 79.890
Jumlah seluruh suara sah dan tidak: 6.425.574.

29. Papua Barat
Pasangan 01: 508.997
Pasangan 02: 128.732

Jumlah suara sah: 637.729
Suara tidak sah: 12.462
Jumlah seluruh suara sah dan tidak : 650.191

30. Sulawesi Selatan
Pasangan 01: 2.117.591
Pasangan 02: 2.809.393

Jumlah suara sah: 4.926.984
Suara tidak sah: 98.205
Jumlah seluruh: suara sah dan tidak 5.025.189

31. Riau
Pasangan 01: 1.248.713
Pasangan 02: 1.975.287

Jumlah suara sah: 3.224.000
Tidak sah: 47.530
Jumlah suara sah dan tidak sah: 3.271.530

32. Sumatera Utara
Pasangan 01: 3.936.515
Pasangan 02: 3.587.786

Jumlah suara sah: 7.524.301
Suara tidak sah: 111.925
Jumlah suara sah dan tidak sah: 7.636.226

33. Maluku
Pasangan 01: 599.457
Pasangan 02: 392.940

Jumlah suara sah: 992.397
Suara tidak sah: 11.514
Jumlah suara sah dan tidak sah: 1.003.911

34. Papua
Pasangan 01: 3.021.713
Pasangan 02: 311.352

Jumlah suara sah: 3.333.065
Suara tidak sah: 58.822
Jumlah suara sah dan tidak sah: 3.391.887

INFOSEKAYU - Melihat foto utama di atas yaitu sebuah Suzuki Thunder milik polisi memang terlihat seperti kecelakaan motor tergilas truk, tapi bukan itu yang terjadi.


Suzuki Thunder tersebut memang rela dikorbankan oleh Ipda Tatang dari Polsek Sungai Raya, Kalimantan Barat.

Kasat Lantas Polresta Pontianak Kompol Syarifah Salbiah dalam siaran persnya di sebuah grup WA menjabarkan bahwa kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 08.45 WIB, Jumat (3/4/2019).

Saat itu tengah terjadi kemacetan di Jembatan Kapuas 2 yang disebabkan oleh tronton Roda 10 mogok dan tidak bisa naik.

Truk tersebut berasal dari dari arah Simpang Brimob yang hendak menuju arah Simpang Kapur.

Kemudian, datanglah Ipda Tatang yang mencoba mengamankannya dan mencoba untuk memundurkannya.

Dengan menyetop kendaraan di bawahnya/belakangnya dengan jarak sekitar 500 meter, kemudian anggota tersebut meletakkan motor dinas Suzuki Thunder sebagai penghalang supaya kendaraan lain tidak naik.

Setelah diarahkan untuk mundur ternyata tronton tersebut remnya tidak berfungsi. Sementara saat di gas truk tersebut tidak sanggup naik lagi.

Sembari mengatur lalu lintas, Ipda Tatang mencoba meneriaki sang supir agar mengerem.

Namun truk tersebut tetap mundur dan menggilas motor dinas Ipda Tatang.

Syukurnya hal tersebut malah membuat truk tersebut terganjal dan berhenti sehingga tidak membuat kendaraan terus mundur dan menggilas mobil-mobil dan kendaraan lainnya yang berada di bawah jembatan.

Kalau tidak ada Suzuki Thunder Ipda Tatang yang jadi ganjalan, bisa jadi truk tersebut akan mengakibatkan kecelakaan yang lebih parah. Trims Ipda Tatang! /red/

Sumber : Tribun Sumsel