Articles by "Info Budaya"
Tampilkan postingan dengan label Info Budaya. Tampilkan semua postingan

PLAKAT TINGGI - MUBA, Malam Dekorasi dan Janur merupakan suatu istilah yang ada di Kabupaten Musi Banyuasin untuk menyebut tradisi gotong royong menghias rumah pengantin dan panggung pernikahan serta membuat janur pengantin yang dilakukan oleh muda mudi bersama-sama. Anak-anak muda ini tidak dibayar, mereka bersuka cita membantu sang ahli rumah membuat pernak pernik hiasan rumah dan panggung pernikahan. 

Di kawasan perkotaan tradisi gotong royong antar pemuda dalam membuat janur dan dekorasi hajatan sudah berkurang. Karena mungkin kebanyakan orang tidak ingin dibuat repot sehingga semua dipermudah dan hanya meminjam di tempat penyewaan atau membeli produk jadi. Namun, tidak demikian dengan yang terjadi di Desa Sidorahayu, Kecamatan Plakat Tinggi. Anak-anak muda di sini masih begitu antusias untuk hadir membantu malam dekorasi pernikahan, bukan hanya dari desa setempat, namun juga hadir para pemuda pemudi dari desa-desa tetangga sehingga acara begitu meriah dan dipenuhi suasana keakraban hal ini diungkapkan Tim Kominfo Musi Banyuasin Melalui Radio  Gema randik sekayu bersama Admin Serasan sekate Musi Banyuasin yang berkesempatan hadir di acara dimaksud kamis (28/11) 

“Andri, seorang pemuda setempat mengatakan, "di Desa Sidorahayu, kecamatan Plakat Timggu, acara malam dekorasi ini berlangsung selama satu minggu setelah malam “nerangke punce”  (pengumuman panitia). Supaya rumah dan panggung pengantin terlihat indah, maka dibuat dekorasi dari kertas minyak, kertas karton, dan pernak pernik warna warni lainnya yang dibentuk secara kreatif menjadi suatu hiasan yang indah. Setiap sudut rumah dan panggung dihiasi dengan hiasan-hiasan yang telah dijalin rapi.
Kami tidak merasa keberatan karena hal ini dilakukan bersama-sama dalam kegembiraan". 

Sementara itu pemudi, Novia Wulandari, sohibul hajat mengatakan, "Selain bisa bersilahturahmi dan membantu teman Yang melangsungkan pesta  pernikahan, budaya  gotong royong dekorasi ini juga bermanfaat untuk menghindarkan pemilik hajatan dari Korban WO ( wedding Organizer) abal-abal. Ingat peristiwa Pesta pernikahan yang bubar dan buat malu karena WO  kabur tanpa memenuhi tugasnya? Jadilah gigit jari dan malu 'kan? Itulah mengapa mungkin tradisi yang dipakai oleh kakek-nenek kita zaman dahulu harus terus kita lestarikan". Atau jika pun mesti ada WO tentu WO profesional dan tetap melibatkan anak muda kita yang bersama sama bekerja tanpa menghilangakan tradisi budaya kita pungkasnya .

SEKAYU, - Sebagai upaya memberikan  perlindungan hukum terhadap barang atau produk asli daerah, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin melakukan pembentukan Kelembagaan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (IG), untuk komoditi Gambir dan Jumputan Gambo Muba dan akan mendapatkan sertifikasi dari Asosiasi IG Indonesia.

Pembentukannya dilaksanakan pada acara sosialisasi masyarakat indikasi geografis dan forum group discussion (FGD) tentang hilirisasi Gambir, diikuti para pekebun dan pengola Gambir dari Desa Toman Kecamatan Babat Toman, di Guest House Griya Bumi Serasan Sekate, Jumat (8/11/2019).

Bupati Muba H Dodi Reza Alex diwakili Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Muba Yusman Srianto yang membuka sosialisasi dan FGD ini berharap melalui kegiatan tersebut dapat terbentuknya MPIG, dimana komoditi Gambir kedepan menjadi komoditi strategis dan dapat dikembangkan menjadi industri berbasis ekonomi kerakyatan.

"Alhamdulillah saat ini telah dilakukan upaya untuk mewujudkan masyarakat Indikasi geografis artinya adalah kelembagaan masyarakat yang memiliki wadah atau himpunan masyarakat maupun pekebun khususnya pekebun gambir," ucap Yusman.

Lanjutnya, pembentukan kepengurusan kelompok masyarakat indikasi geografis yang terdiri dari pengelola Gambir atau sektor hulu dan pengrajin kain jumputan Gambo atau sektor hilir dari komoditi Gambir yang ada di wilayah Desa Toman Kecamatan Babat Toman Kabupaten Muba.

"Jadi langkah awal dilakukan penataan kelembagaan pekebun dan pengrajin terlebih dahulu baik di sektor hulu maupun hilir sehingga jika sudah dilakukan penetapan masyarakat indikasi geografis maka mendapatkan perlindungan terhadap produk yang dihasilkan dari spesifikasi wilayah indikasi geografis tersebut dan meningkatkan nilai jual bahkan mendapatkan pengakuan hak kekayaan intelektual (HKI) terhadap produk Gambir dan olahannya sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan berkebun Gambir," ujarnya.

Kepala Dinas Perkebunan Muba Drs Iskandar Syahrianto mengatakan Gambir di Muba ini spesifik hanya bisa tumbuh di Desa Toman yang saat ini tumbuh dengan luasan kurang lebih 50 hektare, dan harga tergolong masih rendah. Oleh karena itu hasil dari FGD dan pembentukan Kelembagaan Masyarakat Indikasi Geografis diharapkan dapat mendongkrak harga jualnya agar lebih baik kedepan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Untuk susunan kepengurusan kelembagaannya harap disampaikan ke kami dalam waktu seminggu kedepan," pesan Iskandar kepada para pekebun dan pengola produk turunan gambir.

Ketua Asosiasi IG Indonesia sekaligus Team Ahli IG Kemenkumham Dr Ir H Riyaldi MM yang menjadi salah satu narasumber sosialisasi dan FGD menargetkan pembentukan sertifikasi IG Gambir Muba dan Jumputan Gambo Muba selama 6 (enam) bulan.

"Indikasi geografis ini adalah suatu tanda yang menunjukkan asal suatu barang dan produk yang karena faktor geografis yaitu faktor alam atau manusia yang menyebabkan munculnya reputasi, kualitas dan karakteristik tertentu pada barang atau produk yang dihasilkan," tutur Riyaldi.

Turut hadir diantaranya Camat Babat Toman M Aswin, Direktur PT Muba Sarana M Daud, Kepala Program Pelayanan pada Masyarakat LPPM Institut Pertanian Bogor Dr Prayoga Suryadarma STP MT, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Provinsi Sumsel Nanang Taat Suyudana, Ditjenbun Kementerian Pertanian RI Kasi Kawasan Sulkani SE MSi, dan dari perusahaan serta pihak perbankan dalam Kabupaten Muba.

INFOSEKAYU - Setelah sukses dengan Bongen Festival beberapa waktu lalu, pada 29 September mendatang Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) akan menggelar kegiatan Bekarang 2019.


Selain itu, Dispopar Muba juga menggelar Lomba Masak antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Muba.

Hal ini terungkap ketika dilaksanakan Rapat Persiapan Pelaksanaan Bekarang 2019 Kamis (29/8/2019) di Ruang Rapat Randik. Plt Kepala Dispopar Muba Muhammad Fariz SSTP menyebutkan, rencana kegiatan bekarang akan diselenggarakan pada 29 September 2019 di Kecamatan Batanghari Leko.

“Pada hari itu juga akan dilaksanakan lomba masak eksekutif dari seluruh FKPD,” kata Fariz.

Dengan adanya kegiatan Bekarang bersama dan lomba masak tersebut, lanjut dia, merupakan salah satu upaya menjaga tradisi turun menurun warga Kabupaten Muba dalam mencari ikan.

“Nah, untuk konsep lomba masak itu sendiri guna menjaga kekompakan antar OPD dan FKPD di Kabupaten Muba,” jelasnya.

Fariz menambahkan, untuk kebersihan lokasi Bekarang pihaknya akan bersama-sama jajaran Dinas Lingkungan Hidup Muba serta peserta bekarang dan lomba masak untuk menjaga kebersihan.

“Jadi, pada rangkaiannya nanti kebersihan itu utama yang akan kita jaga,” tuturnya.

Bupati Muba H Dodi Reza Alex Noerdin diwakili Sekda Muba Drs H Apriyadi MSi mengharapkab kepada Organisasi Perangkat Daerah dan seluruh kepanitiaan terkait untuk mensukseskan kegiatan Bekarang tahun 2019 menjadi ajang festival di Bumi Serasan Sekate.

“Semoga kegiatan Bekarang yang merupakan budaya lokal ini menjadi even tahunan sebagai salah satu potensi pariwisata di Kabupaten Musi Banyuasin,” tutup Sekda. /red/

INFOSEKAYU - Kabupaten Musi Banyuasin  memiliki budaya khas yang membedakan dengan daerah lain. Salah satunya budaya berupa sastra lisan atau sastra tutur. Ada banyak macamnya. 


Mulai cerita rakyat, nyanyian rakyat, bahasa Berirama dan puisi rakyat. Puisi Rakyat juga bermacam-macam, ada yang berupa mantera ada pula berbentuk pantun. Ini semua menunjukkan kekayaan spiritual nenek moyang Musi Banyuasin.

Ada lagi bentuk nyanyian rakyat yang sejak dulu hidup, terkenal dan masih hidup merakyat hingga kini di tengah masyarakat Musi Banyuasin yakni Senjang.

Senjang ini, sebagai salah satu bentuk media seni budaya tutur tergolong unik dan khas.  Selain berfungsi sebagai media komunikasi orang tua dengan generasi muda, masyarakat dengan pemerintah, bentuk kemasan pertunjukkannya pun tiada duanya. 

"Dalam penyampaian aspirasi yang berupa nasihat, kritik maupun olokan ungkapan rasa kepada pendengarnya, disajikan dengan iringan musik yang seolah hanya jadi pengantar saja. Ada situasi kosong setelah musik berhenti ditabuh lalu diteruskan dengan lantunan penutur Senjang," ungkap Kadinkominfo Muba, Herryandi Sinulingga AP

Sinulingga mengapresiasi gadis Muba bernama Wulandari,  akrab disapa Wulan. Dara kelahiran Plakat Tinggi yang bulan September nanti akan berusia 23 tahun, sudah tampil bersenjang sejak mengenal musik dan kaidah seni tutur ini. Wulan belia dikenal jago Senjang dan giat  mengkampanyekan Senjang. 

Ia  tauladan yang baik bagi anak muda Musi Banyuasin yang berkreasi lewat seni budaya. Wulan juga aktif  merespon positif  Perda No 2 Tahun 2018 Tentang Pesta Rakyat. Ia juga gencar menyuarakan gerakan anti narkoba," ujar Sinulingga.

Perda Pesta Rakyat diketahui punya pasal pengaturan Pesta Rakyat adalah :
a. sebagai upaya pengendalian dan pembatasan waktu kegiatan Pesta Rakyat; dan
b. untuk meminimalkan perbuatan negatif yang mungkin terjadi dari kegiatan Pesta Rakyat.

Dan dalam Pasal 3-nya

Pengaturan Pesta Rakyat bertujuan untuk :
a. memberikan pendidikan moral dan etika kepada masyarakat
guna meningkatkan disiplin diri, kesabaran, rasa toleransi, pengendalian diri dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. memberikan pemahaman kepada warga masyarakat dan menempatkan fungsi Pesta Rakyat secara proporsional, sehingga Pesta Rakyat tersebut benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya; dan
c. mewujudkan ketentraman dan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat, sehingga menumbuhkembangkan suasana tenang dan harmonis, sesuai dengan norma moral dan etika yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.

Wulandari,  saat diwawancara  media, merasa miris dengan banyaknya pemberitaan mengenai peredaran narkoba di  masyarakat. Bukan hanya di daerahnya tapi seluruh negeri termasuk Indonesia.

"Narkoba ini sudah begitu meresahkan karena ia menyasar semua kalangan baik tua hingga muda. Begitu banyak hal-hal buruk yang bisa terjadi sebagai dampak dari narkoba ini," Ujar alumni Prodi Sendratasik PGRI Palembang ini.

Sebagai juara 1 Festival Randik Muba Tahun 2018 kategori senjang, Wulan merasa terpanggil untuk turut serta mengkampanyekan perda Pesta Rakyat yang membatasi pesta di malan hari  dan  bahaya narkoba.  Melalui kesenian khas Musi Banyuasin, Senjang, Wulan selalu menyelipkan pesan perlawanan terhadap konsumsi narkoba.

"Kita bisa melawan narkoba dengan cara apapun sesuai dengan kapasitas kita. Bahkan dengan cara sederhana seperti Senjang.  Selaku warga Muba mewakili anak muda Indonesia sangat mendukung lahirnya Perda Pesta Rakyat  yang membatasi pesta malam hari di daerahnya. Melalui Senjang, saya akan terus  kampanyekan itu termasuk mengkampayekan Muba anti narkoba. Bupati Muba, Dodi Reza Alex Noerdin sangat gencar  mensosialisasikan ini setiap kunjungan ke kecamatan kecamatan pada safari jumat, kita juga harus gencar," ujarnya.

Herdoni Syafriansyah, Ketua organisasi seni budaya, Arsi Muba mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Wulandari.

"Saya rasa, ini hal positif yang terkadang luput dari pandangan kita. Sejatinya, seni itu bukan hanya menghibur melainkan juga ada tanggung jawab moral kepada masyarakat di dalamnya. Sehingga bukan hanya seni untuk seni, melainkan juga seni untuk masyarakat. Ada suatu bentuk pengabdian di dalamnya. Sebagai pelaku seni Senjang, Wulandari sudah melakukan pencapaian tersebut dan hal ini perlu kita apresiasi. Mari kita bersama sama ikut serta melakukan kegiatan positif ini," tutupnya. /red/


INFOSEKAYU - Sebagai ibu kota dari Kerajaan Norwegia, Oslo merupakan kota yang kaya akan perpaduan kebudayaan yang berakar dari budaya Skandinavia dan nilai-nilai kontemporer. Oleh sebab itu pelaksanaan Festival Indonesia 2019 kali ini dipusatkan di Oslo.


Kabupaten Musi Banyuasin yang kaya akan seni, budaya, dan kuliner turut andil dalam Festival Indonesia 2019 di Oslo Norwegia.

Tak ingin ketinggalan Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin didampingi Ketua TP PKK Muba, Hj Thia Yufada Dodi Reza yang juga inisiator Gambo Muba membawa sejumlah barang serta tampil dalam fashion show bertajuk Gambo Muba di hadapan wisatawan dari seluruh negara yang hadir dalam rangkaian Festival Indonesia 2019: A Land of Diversity.

"Jadi, Muba dalam festival ini membawa Gambo Muba, Kesenian daerah dan budaya Muba serta cemilan sehat produk petani lahan gambut Muba, memperkenalkan kesenian daerah yang dimiliki Muba seperti tari Setabek, Tari Dana dan lainnya, dan   penampilan Tari Setabek menjadi kehormatan tampil saat acara pembukaan festival Indonesia di Oslo Norwegia dan ini merupakan suatu kehormatan bagi Musi Banyuasin," ujar Bupati Muba Dodi Reza yang juga alumni University Libre de Bruxelles Belgia ini.

Dodi berbicara di sela kehadirannya pada Malam Inagurasi Festival Indonesia di Felix Conference Bryggetorget Oslo Norwegia.

Misi kebudayaan yang diemban Dodi Reza Alex Noerdin dilakukan untuk menindaklanjuti Undangan Duta Besar Indonesia untuk Norwegia Todung Mulya Lubis dan saat tiba di Norwegia Tim Muba disambut langsung oleh Walikota Oslo Norwegia Fabian Stang.

"Produk Gambo Muba yang ditampilkan yakni diantaranya clutch, tas, boneka, payung, dan gantungan kunci. Selain itu juga
disiapkan foto booth baju adat  Muba untuk memahatkan kenangan pengunjung dengan berfoto memakai pakaian tersebut," bebernya.

Kemudian, kandidat Doktor Universitas Padjajaran ini juga membawa hasil olahan produk pangan sehat atau eco food dari lahan gambut di Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) yakni berupa Nanas Kering, Keripik Kelapa, Beras Merah, Beras Hitam, Beras Putih, Sambal Tabur Nanas, dan Selai Nanas.

"Di bawah binaan Badan Restorasi Gambut (BRG) RI, produk cemilan gambut sehat ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung festival di Oslo," jelasnya.

Dodi menambahkan, keikutsertaan Muba dalam Festival Indonesia 2019 di Oslo tersebut diharapkan  produk-produk Muba dikenal di mancanegara dan menarik minat  investor untuk datang ke bumi Serasan Sekate.

"Selama ini di mancanegara, orang hanya mengenal Bali. Nah, ke depan wisatawan mancanegara tidak hanya kenal Bali namun juga kenal Muba sebagai daerah yang sustanaible dan kaya akan sumber daya alam serta kreatif," jelasnya.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, Todung Mulya Lubis mengatakan tema dari Festival Indonesia 2019 ini adalah “Wonderful Indonesia: A Land of Diversity”.

"Selama ini, wilayah dan kesenian di Indonesia yang paling dikenal oleh masyarakat Norwegia adalah Bali. Dengan festival ini, diharapkan masyarakat Norwegia dan pengunjung festival mengetahui bahwa Indonesia tidak hanya terdiri dari Bali saja, tetapi juga wilayah dan budaya lain yang juga menarik yang juga diantaranya dimiliki Kabupaten Muba," jelas Todung.

Lanjutnya, dengan menonjolkan bazaar kuliner Indonesia dan pertunjukan budaya Indonesia yang beraneka ragam serta promosi produk unggulan Indonesia, festival ini diharap membawa lebih banyak lagi pengunjung dan menjadi media promosi ekonomi, budaya dan pariwisata Indonesia yang baik.

"Selain itu, promosi wisata yang akan dilakukan dalam Festival Indonesia diharapkan dapat menjadi media promosi pariwisata Indonesia yang baik yang dapat menarik lebih banyak wisatawan Norwegia ke Indonesia. Selain itu, seminar bisnis dan pertemuan bisnis yang juga akan dilakukan sebagai bagian dari festival ini diharapkan mampu menarik minat pebisnis Norwegia untuk melakukan bisnis dengan pebisnis Indonesia ataupun melakukan bisnis di Indonesia," pungkasnya.

Direktur Eropa II Kementerian Luar Negeri RI, Hendra Halim, menggarisbawahi bahwa meskipun terpisah jarak yang sangat jauh, hubungan bilateral Indonesia-Norwegia semakin erat dari tahun ke tahun.

Sejak dibukanya hubungan diplomatik pada tahun 1950, hubungan kedua negara semakin berkembang ke arah strategis. Pada tahun 2010, kedua negara meningkatkan derajat kerja sama menjadi kemitraan dinamis (Joint Declaration on Cooperation Towards a Dynamic Partnership in the 21st Century).

“Hubungan Indonesia-Norwegia memasuki babak baru dengan ditandatanganinya Comprehensive Economic Partnerhsip Agreement (CEPA) dengan European Free Trade Association (EFTA),” tutur Hendra Halim.

“Norwegia adalah salah satu anggotanya.” EFTA adalah asosiasi perdagangan bebas yang beranggotakan Norwegia, Islandia, Swiss, dan Liechtenstein.

“Festival Indonesia di Oslo ini akan menjadi penanda dimulainya rangkaian peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Norwegia yang akan jatuh pada tahun 2020,” pungkas Hendra Halim.

Pada Festival Indonesia di Oslo, Kementerian Luar Negeri juga melibatkan Kementerian Pariwisata, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, dan Pemda Lainya, Badan Restorasi Gambut, Javara, dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia. /red/

Kertayu, INFOSEKAYU.COM – Hari ini Senin (29/4/2019) merupakan hari spesial bagi masyarakat Desa Kertayu, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Muba untuk melaksanakan Sedekah Rami, budaya yang setiap tahunnya digelar.
Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Muba H Rusli SP MM pada acara yang dihadiri ratusan masyarakat tersebut mengatakan, selain silaturahmi dan doa bersama kegiatan itu juga sebagai bentuk ucapa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan kepada masyarakat Desa Kertayu.
“Yang paling utama agar masyarakat Muba khususnya di Desa Kertayu semakin sejahtera dengan berbagai rezeki yang Allah SWT telah berikan,” ucapnya.
Rusli juga mengucapkan terima kasih dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama melanjutkan pembangunan di Kabupaten Muba agar lebih maju lagi.
Camat Sungai Keruh Muhammmad Imron melalui Sekcam Andi Suharto SSTP MSi mengungkapkan, Sedekah Rami ialah salah satu budaya lokal Desa Kertayu yang sampai saat ini masih ada dan akan terus dilestarikan nilai-nilai yang sudah tertanam pada masyakat sejak lama.
“Dengan pelestarian budaya menjadikannya tetap eksis ditengah era milenial sekarang ini dan tidak luntur nilai-nilainya oleh perkembangan zaman,” ujar Andi. (rel)

INFOSEKAYU.COM - Sekretaris Daerah Muba Drs H Apriyadi MSi tanggal 20 Februari mendatang akan mengikuti Rapat Kerja Nasional Forum Sekretariat Daerah Seluruh Indonesia (Forsesdasi) di Kota Balikpapan Kalimantan Timur.


"Forsesdasi ini Sebagai wadah untuk berkomunikasi, berkoordinasi dan bersilaturahmi Sekda Se-indonesia. Rakernas nanti kita akan membahas isu-isu strategis  berbagai persoalan dan tentu mencari solusi berkenaan dengan bagaimana birokrasi ASN berjalan dengan baik ke depan," ungkapnya usai mengikuti Rapat Koordinasi Forsesdasi Sumsel di Ruang Rapat Bina Praja Palembang, Kamis (7/2/2019).

Ketua bidang hukum dan politik pada Forsesdasi Sumsel, Apriyadi menyampaikan 7 usulan program kegiatan yang akan disampaikan salah satunya mengusulkan ke Pemerintah agar pengorganisasian Korpri dapat diperkuat kelembagaan menjadi Lembaga Struktural.

"Rencana Program kerja kita sedikit saja asal diterima sehingga bisa membantu sekda yang fungsinya sangat strategis dalam Pemerintahan di Daerah," ungkapnya.

Kepala Bagian Organisasi Azizah SSos MT menambahkan pada Rakernas nanti akan mengenakan batik gambo Muba. "Nanti batiknya kita siapkan sebagai bagian upaya kita mempromosikan hasil kerajinan masyarakat ke kanca nasional," ujarnya.

Sementara itu Ketua Forsesdasi Sumsel Dr Drs H Achmad Tarmizi, SE, MT, MSi, selaku Pemimpin Rapat mengatakan Rakernas forsesdasi yang akan dilaksanakan di Kaltim rencananya akan dihadiri langsung oleh Bapak Presiden Republik Indonesia.

"Agenda rakernas ini akan mengubah nama organisasi dari forum menjadi Asosiasi Sekretaris Daerah seluruh Indonesia. Dan kita (Forsesdasi Sumsel) nanti akan menyampaikan program kerja strategis", jelasnya.

Turut mendampingi Sekretaris Daerah Muba dalam Rapat tersebut Kepala Bagian Organisasi Azizah SSos MT dan Kepala Bagian Keuangan M Ali. /red/

SAWAHLUNTO, INFOSEKAYU -  Sebanyak 65 Penayair Nasional,, Asean dan Eropa ikut berpastisipasi dalam event SAWAHLUNTO Poetry Reading Festival 2918 di Batu Runciang Silungkang yang diselenggarakan dari tanggal 7-9 November 2018.

Dalam sambutannya, Walikota Sawahlunto Deri Asta mengatakan, dengan kembali diadakannya Festival Puisi di Batu Runciang ini, selain menjadi ajang perlombaan serta berbagi ilmu terkait puisi dan sastra juga dapat meningkatkan antusiasme generasi muda “Kota Arang” pada sastra.

"Dengan sastra maka tingkat kepekaan dan kreatifitas generasi muda tersebut didorong untuk lebih meningkat. Juga banyak keuntungan lain yang bisa didapat jika anak-anak dekat dengan sastra – atau dengan istilah lain literasi sejak dini. Tak hanya itu, penyelenggaraan iven itu juga diharap memberikan dampak ekonomi pada warga setempat," tuturnya.

Dalam acara ini, turut serta tiga orang penyair Nasional Muba yaitu Yoyong Amilin, Eko Putra dan Herdoni Syafriansyah serta lima orang lainnya utusan Komunitas Arus Musi (ARSI) Muba, mereka menampilkan puisi mantra di Batu Runciang dan pantun melayu di SMP Muhammadiyah Silungkang.

Herdoni Syafriansyah, Ketua Komunitas Arsi Muba mengatakan, “ini merupakan bentuk eksistensi kita sebagai salah satu komunitas luar daerah yang dapat ikut serta berpartisipasi menghadiri kegiatan di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Kami sangat  berterima kasih kepada seluruh Panitia kegiatan, pihak Pemkot Sawahlunto, dan juga Pihak Pemerintahan Kab. Muba dalam hal ini Dinas DikBud Muba yang telah mendukung penuh keberangkatan kami”.

Eddy Pramduane, penyair yang memprakarsai Sawahlunto Poetry Reading Festival disela aktifitasnya pada perhelatan sastra tersebut mengatakan, adapun kegiatan Sawahlunto Poetry Reading Festival II (SPRF II)  ini  meliputi Panggung apresiasi, Lomba Baca Puisi Antar Guru se Kota Sawahlunto, Festival Karawitan, Festival Silek, Workshop, Pameran/Bazar Buku, dan Wisata Budaya.

Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman (DKPBP) Hendri Thalib menambahkan, ajang ini terselenggara tak lepas dari dukungan penuh niniak – mamak serta seluruh masyarakat Silungkang, Sawahlunto.

“Ini merupakan penyelenggaraan kedua, Sawalunto Poetry Reading Fest adalah ajang pertemuan sastrawan nusantara guna berekspresi dan berinovasi agar dapat melahirkan penemuan-penemuan baru. (im)
foto  siswa/i MAN bersama Penggiat Literasi Sumsel

Sekayu, Infosekayu.com-  Kembali MAN 1 MUBA menjadi  tuan rumah untuk program bincang-bincang sastra yang menghadirkan sosok penggiat literasi Sumsel.

Hadir di acara sosok penulis Yoyong Amilin, Mady Lani, Herdoni Syafriansyah dan Rojaki yang menggagas program yang bertajuk Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (mengadopsi kegiatan Kemendikbud di tahun 2000-an)

Hadir juga beberapa penggiat komunitas Baca Sekayu seperti Gerobak Baca, ARSI Muba, dan perwakilan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Muba.



Kegiatan yang berlangsung selama 2 jam ini dikemas secara apik dengan mengolaborasikan pembacaan puisi oleh sastrawan dan perwakilan siswa, workshop menulis puisi dengan metode Haiku oleh penyair Mady Lani, dan pemutaran film karya siswa siswi MAN Satu Sekayu.

Tentunya kegiatan ini diharapkan  mampu memotivasi siswa-siswi MAN 1 MUBA untuk menulis dan berkarya. Selain itu mereka juga dapat mengambil nilai-nilai luhur dan kearifan yg terdapat pada karya sastra.

Di akhir acara para narasumber pun diminta oleh pihak sekolah untuk menuliskan kata-kata motivasi yang mampu membakar semangat untuk berkarya.

Duta Baca Muba, Rojaki. M. Pd menyatakan, "Semoga gelaran Literasi ini terus berjalan dan dapat menyambangi sekolah-sekolah lainnya di Muba".

Kepala MAN satu, Ruslaini, S.Pd, M.Pd mengatakan, "merasa sangat bangga dan beruntung bisa menyelenggarakan acara yang luar biasa ini dan berharap bisa terus berkesinambungan".

Sementara itu, perwakilan penggiat literasi Yoyong Amilin menyampaikan ucapan terima kasih dan kebanggaannya kepada kepala MAN 1 Muba, Tim Jurnalis MAN 1 Muba, Siswa-siswi dan teman teman Komunitas yang sudah dengan sukarela menyukseskan acara ini. (im)

INFOSEKAYU.COM - Kekayaan budaya lokal di Musi Banyuasin menjadi perhatian serius Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin. Mantan anggota DPR RI dua periode ini menginstruksikan kepada seluruh Camat di Bumi Serasan Sekate untuk menyisir keberadaan cagar budaya yang ada di Desa-Desa.


"Saya minta kepada seluruh Camat sisir satu persatu cagar budaya di wilayah masing-masing. Kita harus angkat kebudayaan lokal di Muba, utamanya situs cagar budaya," tegas Bupati di sela membuka kegiatan Festival Kuda Lumping, Sabtu (29/9/2018) di lapangan Gelanggang Remaja Sekayu.

Muba ini, lanjut Dodi, banyak ragam seni dan budayanya. "Dan setiap saya kunjungan di kecamatan-kecamatan dalam wilayah Musi Banyuasin, banyak potensi seni budaya yang mesti kita kembangkan kembali untuk melestarikannya," ujarnya.

Untuk itu, dirinya menginisiasi potensi seni budaya kecamatan angkat dan diberikan pembinaan oleh Camat kepada yang telah menjaga dan terus melestarikan seni budaya, lokal seni budaya adat istiadat yang ada di Musi Banyuasin dan terus bersinergi memajukan dan melestarikan seni budaya yang tumbuh dan berkembang di daerah Musi Banyuasin.

"Mari kita lestarikan seni budaya nusantara kita," ajak Dodi.

Dia juga mengingatkan, seiring dengan pembangunan infrastukrur, pembangunan sumber daya manusia dan potensi Musi Banyuasin lainnya, "Ke depan kita buat festival seni budaya semakin meriah, baik budaya lokal tradisional hingga tari kreasi modern akan digabung. Dan setiap event event olah raga dan festival seni budaya, akan kita tampilkan. Sehingga bisa lebih dikenal di tingkat nasional dan internasional," ungkapnya.

Sementara itu di Muba tercatat, sebanyak 7 situs cagar budaya baru yang ada di Kabupaten Muba yang prasastinya secara resmi ditandatangani oleh Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin. Yakni di antaranya situs makam Puyang Pasmah Desa Dawas, situs makam Puyang Pekik Nyaring Desa Sumber Rejeki, situs makam Puyang Serampuh Lidah Hitam Desa Muara Punjung.

Selain itu, situs makam Puyang Santri Desa Muara Punjung, situs makam Puyang Haji Tajam Desa Bumi Ayu, dan situs makam Puyang Dukun Desa Tanah Abang.

"Cagar budaya ini harus dijaga, akses jalan dan kebersihan harus diperhatikan.Inilah peninggalan yang harus tetap dijaga dan menjadi tugas kita bersama," tegasnya.

Dodi meminta, di setiap situs cagar budaya disiapkan sebanyak dua penjaga yang bekerja untuk secara bergantian membersihkan lokasi cagar budaya tersebut. "Minimal dua penjaga di setiap situs, saya minta betul ini diperhatikan," lanjutnya.

Sementara itu, pada rangkaian festival Kuda Lumping dalam rangkaian HUT Muba ke-62 tersebut diikuti sebanyak 610 peserta yang berasal dari perwakilan Desa-Desa di Musi Banyuasin. Pelaksanaan akan digelar 29 September - 2 Oktober 2018 di lapangan Gelanggang Remaja Sekayu. /red/

Kaltim, Infosekayu.com-Jambore Nasional III Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) yang diselenggarakan di Kec. Muara Samu, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur pada tanggal 18-21 April 2018 dihadiri oleh sepasang pemuda-pemudi Adat dari Kabupaten Musi Banyuasin.

Jambore ini merupakan jambore pemuda adat yang ke III, dimana harapannya pemuda-pemudi adat yang mewakili daerahnya masing-masing dapat mengenal lebih banyak lagi keragaman suku, adat dan budaya Indonesia. Tidak hanya itu, harapannya kedepan BPAN dapat membentuk kader-kader baru pelindung bagi masyarakat adat di Indonesia. Peserta dari Muba tersebut adalah Oktapianus PW dan Haima Maileni yang berkesempatan mengenalkan adat dan Budaya lokal di Kalimantan Timur. Menurut Oktapianus, seharusnya kami dari Muba ini berangkat bertiga, namun peserta yang satunya, Herdoni Syafriansyah berhalangan karena sakit.

Kegiatan Jambore BPAN ini dibuka oleh Rukka Sombolinggi selaku Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nasional, Bupati Kabupaten Paser (diwakili Sekda), Camat Muara Samu, dengan memukul gong sebagai pertanda dibukanya kegiatan.
Pembukaan kegiatan ini diisi dengan ritual, Tabe-tabe untuk Muser, Tanah Adat untuk Kehidupan, Tarian dari suku Dayak dan tarian dari pemuda adat Sulawesi Utara (Manado).
Setelah pembukaan peserta JAMNAS dilanjutkan dengan beberapa kegiatan seminar atau serasehan, dengan beberapa diskusi dan kegiatan tanya jawab antara peserta dan Narasumber.
Selama enam hari berada di Kalimantan Timur, mereka akan terus belajar dan berbagi wawasan serta pertunjukan mengenai adat, seni dan budaya Indonesia.
Salah satu peserta perwakilan Muba Haima Maileni mengatakan bahwa mereka akan berkomitmen mengharumkan nama Provinsi Sumsel melalui pengenalan adat dan budaya lokal Kabupaten Musi Banyuasin. 

''Kami merasa sangat bangga mendapat kesempatan mewakili Sumsel bersama 4 orang pemuda Kabupaten/Kota lainnya di Sumsel untuk menghadiri kegiatan ini dan tak lupa mereka pun mengucapkan ribuan terima kasih kepada Bapak Plt. Bupati Muba, Beni Hernedi, S. IP dan Pak Sodingun, SH anggota DPRD Muba yang telah mendukung keberangkatan mereka baik secara moriil maupun materiil.(im)
Sungai Keruh, Infosekayu.com – Kebudayaan di Kabupaten Musi Banyuasin masih kental dengan adat istiadat dan nilai kebudayaan yang terus dilakukan masyarakat setiap tahunnya. Seperti tradisi perayaan Sedekah Rami (Bumi) yang dilakukan Masyarakat Desa Kertayu, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Rabu (11/04/2018).

Sedekah bumi yang merupakan bagian dari rasa bersyukur masyarakat setempat kepada yang maha kuasa atas rezeki yang telah di limpahkan pada masyarakat, dan berdoa untuk menjauhkan musibah, memohon kepada Allah.

Sejak pagi, terlihat rasa kebersamaan dan kekeluargaan masyarakat Desa Kertayu yang disibukkan dengan berbagai persiapan sedekah rami. Tak ubah seperti hari raya, setiap rumah bersuka cita membakar lemang dan saling memberi. Sebelum memasuki acara puncak yakni berebut lemang, masyarakat desa maupun wisatawan yang datang melakukan ziarah terlebih dahulu ke Makam Keramat Puyang Burung Jauh di Desa Kertayu.

Setelah ziarah selesai dilakukan, Sekitar pukul 14.00 WIB masyarakat berkumpul di rumah juru kunci makam Tarmizi untuk berebut lemang yang merupakan hasil dari buatan masyarakat Desa Kertayu sebagai simbol mengambil keberkahan.

Plt Bupati Muba Beni Hernedi yang ditemani sang istri turut hadir prosesi adat tersebut mengucapkan terimakasih kepada masyarakat desa Kertayu yang tetap mempertahankan tradisi yang sudah lama berjalan secara turun-temurun. “Pemkab Muba menyambut kegiatan adat sedekah rami yang dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dan melestarikan budaya khas Muba”, katanya.

Dalam upaya membangun dan mempertahankan tradisi sedekah rami, Beni menjanjikan akan membangunkan gedung baru balai adat budaya Kertayu sehingga tempat pelaksanaan pembagian lemang lebih representatif.

Sementara itu Tarmizi tokoh masyarakat desa kertayu mengatakan sedekah rami rutin dilaksanakan sebagai tradisi untuk menghindari balak dan sebagai rasa syukur (berkah) pasca panen. “Sedekah bumi identik dengan lemang, makanan khas terbuat dari ketan yang dibakar menggunakan bambu. Ini tradisi kami turun temurun, sebagai bentuk ucapan syukur atas nikmat Allah terhadap hasil panen,” ujarnya.(im)


INFOSEKAYU.COM- Warga Desa Kertayu menggelar tradisi sedekah bumi berupa pembuatan dan pembakaran lemang. Tradisi budaya yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas melimpahnya hasil panen pertanian dan dijauhkan dari musibah. Seperti sedekah Rami Puyang Burung Jauh di Desa Kertayu Kecamatan Sungai Keruh pada Rabu (11/4/18) menarik perhatian wisawatan lokal.

Ratusan warga berbondong-bodong menunggu lemang yaitu makanan terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan santan denga rasa yang asin gurih dan ada juga yang manis dengan campuran pisang, kemudian dimasukkan kedalam bambu lalu dibakar. Lemang tersebut dilemparkan kepada masyarakat dari rumah juru kunci Makam Puyang Burung Jauh.

Tokoh Masyarakat Desa Kertayu, Syaiful, didampingi Juru Kunci Makam Tarmizi. mengatakan "Prosesi sedekah rami ini dimulai dengan berziarah ke makam Puyang Burung Jauh, selanjutnya tetua adat, tokoh masyarakat, dan Bupati melemparkan lemang dari atas rumah. Tujuannya ialah agar hasil panen yang diterima melimpah terus dan dijauhkan dari musibah," kata Syaiful.

Sebelum lemang ini dibagikan, warga secara beramai-ramai memasaknya secara bersama, begitu pula mencari bambu yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.
"Sedekah rami yang kita lakukan ini pada hari ini sukses dan menyedot perhatian dari masyarakat. Acara seperti ini tentunya akan dilakukan terus karena ini merupakan warisan budaya," ujarnya.

Sementara, Plt Bupati Muba, Beni Hernedi, mengatakan, kegiatan sedekah rami maupun sedekah bumi ini merupakan tradisi di Kabupaten Muba yang harus terus dilakukan.
"Kedepan acara ini akan kita koordinir seperti dibangunkannya rumah adat dan tanggal kapan penyelenggaraanya. Karena ritual yang setiap tahun dilakukan memiliki sejarah yang panjang dan menjadi ciri khas dalam meningkatkan wisatawan,"ungkapnya. (Edp)







Serasan Jaya, infosekayu.com- Selama empat bulan berjuang akhirnya Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin mendapat persetujuan dari Kementerian Dalam Negeri terkait pemekaran Kecamatan baru yakni Kecamatan Jirak Jaya yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Sungai Keruh. 

"Kecamatan Jirak Jaya sudah mendapatkan persetujuan, Alhamdulillah selama 4 bulan melengkapi persyaratan dan pengajuan akhirnya sudah disetujui Kemendagri," ungkap Bupati Muba H Dodi Reza Alex Noerdin di sela Rapat Paripurna Masa Persidangan III Rapat ke-47 di ruang rapat Paripurna DPRD Muba, Selasa (12/12). 

Menurutnya, Kecamatan baru yakni Jirak Jaya ini merupakan kado akhir tahun masyarakat Jirak Kabupaten Muba. "Ini kado akhir tahun masyarakat Jirak, dan Kabupaten Muba Insya Allah akan memiliki total 15 Kecamatan," terangnya. 

Dodi berharap, dengan adanya Kecamatan Jirak Jaya nantinya dapat lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jirak. "Selain itu, menjadi pemicu peningkatan perekonomian masyarakat Jirak Jaya," pungkasnya.(hum)


Keluang, infosekayu.com - Tak banyak yang mengetahui, bahwa di kecamatan Keluang terdapat sebuah kelompok industri kecil menengah (ikm) yang bergerak di bidang usaha kerajinan kain songket. Tepatnya di dusun 2 RT 04 Desa Tenggaro Kecamatan Keluang Kabupaten Musi Banyuasin.  Kelompok Industri Kecil ini bernama “Mawar Merah” yang diketuai oleh Marwiyah.

Marwiyah adalah satu-satunya tenaga ahli tenun songket di desa tenggaro, berbekal pengalaman yang dimilikinya ia berhasil mengajak penduduk setempat terutama para ibu untuk menjadi tenaga pengrajin usaha kerajinan kain songket.



“Semuanya ada 10 orang tenaga pengrajin, semuanya perempuan. Tapi saat ini yang aktif hanya 7 orang saja,”ujar Marwiyah.

Ia mengakui, kerajinan usaha songket “Mawar Merah” yang ia pimpin masih dijadikan profesi sampingan bagi masyarakat. Karena penduduk desa Tenggaro kebanyakan para penyadap karet.

“Disini aktifnya itu siang jelang sore pak, karena pada pagi hari para pengrajin kami ke kebun untuk menyadap karet,” tambahnya.

Ditambahkan Marwiyah, kelompoknya dalam satu bulan bisa memproduksi 7 pasang kain songket. Dengan 10 alat tenun yang merupakan hasil bantuan dari Pemkab Musi Banyuasin, Ia dan rekan-rekan pengrajin mampu mengerjakan kain saongket pesanan pelanggan.

“Saat ini masih dominan motif songket khas Palembang, kedepannya kami coba buat motif khas kecamatan keluang Kabupaten Musi Banyuasin, agar kain songket khas Musi Banyuasin bisa memiliki kekhasan,” ungkapnya.

Mengenai bahan jelas marwiyah, jenis produksi Industri ini adalah tenun songket dengan berbahan benang kreskil emas, sura alam, limar, dan lonsen sutra.

beberapa hasil karya kelompok "mawar merah" 

“Harga kain songket dijual dengan kisaran harga 1.500.000 – 2.500.000, tergantung dari bahan dan kerumitan pola yang dibuat,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Musi Banyuasin, melalui kabid Promosi dan Pengendalian Penanaman Modal, Yudi Ardiansyah, SSTP mengatakan bahwa pemkab Musi Banyuasin akan serius memperhatikan industri kecil menengah kerajinan songket “Mawar Merah”.

“Dalam pembahasan dengan DPRD waktu lalu, pemkab Musi Banyuasin akan memberdayakan Industri Kecil Menengah kerajinan songket lokal, dengan cara mengoptimalkan hasil kerajinan songket lokal untuk dipakai dan dikenakan sebagai seragam resmi untuk acara-acara resmi Pemkab,” ujar Yudi.


Yudi juga berharap akan muncul Industri – Industri kecil yang lainnya yang berkembang di setiap kecamatan di Musi Banyuasin (az).


PLAKAT TINGGI, infosekayu.com - Warga Kecamatan Plakat Tinggi Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dengan mayoritas transmigran, menggelar ritual Sedekah Bumi berupa Nasi Tumpeng dan hiburan musik campur sari yang dilakukan oleh masyarakat setempat secara swadaya bertempat di Desa Air Putih Ulu Kecamatan Plakat Tinggi, Selasa (31/10/2017).
 
Dalam sambutan Bupati Muba, H Dodi Reza Alex Noerdin menyampaikan ucapan terimakasih telah diterima dengan baik, penuh keramahan yang luar biasa dan ramai dihadiri oleh masyarakat setempat. Bupati juga mengapresiasi telah terlaksananya sedekah bumi sebagai wujud rasa syukur atas segala nikmat dari Sang Maha Pencipta.
 
"Sedekah Bumi merupakan acara yang sangat baik dan harus dilestarikan maka dari itu dibuatkan secara resmi, masukkan di program kerja jangan secara swadaya saja, ini merupakan tradisi dengan tujuan berserah kepada Sang Pencipta, ucapan syukur atas segala rezeki dan nikmat yang dilimpahkan, sehingga kita siap mengisi pembangunan di daerah, "tukasnya.
 
Dodi juga mengatakan, "untuk diketahui 36 tahun yang lalu, berduyun-duyun masyarakat dari pulau seberang datang ke Muba dengan harapan agar anak cucu sejahtera, oleh karena itu harapan tersebut harus kita jaga, tahun 2018 kita akan melakukan pembangunan infrastruktur secara besar-besaran termasuk di Kecamatan Plakat Tinggi, berupa pembangunan jalan, listrik dan air bersih, "ujarnya.
 
"Selain itu juga kesejahteraan bagi petani kelapa sawit dan karet untuk diperhatikan, salah satu program yang telah Pemkab Muba lakukan ialah peremajaan untuk kelapa sawit, nantinya akan ada juga usulan peremajaan karet yang telah disetujui juga oleh Presiden, nantinya mengenai harga karet yang turun, akan diciptakan aspal berbahan dari karet, sehingga nilai jual karet bisa tinggi, yang terpenting masyarakat sejahtera, dengan penuh semangat masyarakat saya yakin bisa, mari kita bersama-sama bergandengan tangan untuk mensejahterakan anak cucu kita nanti", ujar orang nomor satu di Bumi Serasan Sekate.
 
Laporan Ketua Pelaksana, Sukarji menyampaikan ucapan terimakasih kepada Jajaran Pemkab Muba dan tokoh masyarakat yang telah hadir pada hajatan Sedekah Bumi. Sedekah bumi adalah suatu upacara adat yang melambangkan rasa syukur manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki melalui bumi berupa segala bentuk hasil bumi. 
 
"Acara silaturahmi dengan masyarakat, Zikir dan Doa bersama yang dirangkum dalam Kegiatan Sedekah Bumi Transmigrasi ke 36 dan sekaligus Hari Jadi Kecamatan Plakat Tinggi ke 12 tahun 2017, Semoga dengan sedekah bumi ini menjadikan Kecamatan Plakat Tinggi dengan masyarakatnya selalu dikaruniai kesehatan dan kesejahteraan selalu,"ucapnya.
 
Sementara itu, Camat Plakat Tinggi, Siswandi dalam sambutannya mengatakan,  mudah-mudahan Kecamatan Plakat Tinggi lebih maju berjaya untuk mendukung Visi dan Misi Kabupaten Muba. Dilaporkannya, Kecamatan Plakat Tinggi ada inovasi baru, yaitu akan mendirikan sekolah peternakan sapi dan ada organisasi masyarakat disebut Plazenta (Plakat Tinggi Zona Petani Peternakan Sapi). 
 
"Berdasarkan ide usulan masyarakat yang terhimpun dalam organisasi Plazenta dibawah binaan Bupati langsung sebagai Dewan Penasehat akan mendirikan bank sapi, diharapkan bisa berjalan dan membantu masyarakat agar tidak lagi impor sapi dari luar sehingga sapi bisa dihasilkan dari Plakat Tinggi, dari rencana ini sudah disiapkan lahan seluas 26 hektar tinggal pelaksanaan, kami berharap dengan dukungan dari Pemkab Muba tahun 2018 bisa terlaksana, "harapnya.
 
Acara turut dihadiri Ketua, Wakil dan Sekretaris TP PKK Kabupaten Muba, Hj Thia Yufada Dodi Reza, Susi Imelda Beni Hernedi dan Hj Halimah Rusli. Beserta staf ahli Bupati dan Organisasi Perangkat Daerah terkait. (humas)

Sekayu, infosekayu.com – Plt Sekretaris Daerah Kabupaten Musi Banyuasin Drs H Apriyadi MSi dalam pembukaan rapat tahunan forum musyawarah pemangku adat Muba, di Wisma Atlet Sekayu, Selasa (17/10/2017) mengimbau untuk sama-sama melestarikan adat istiadat yang ada di masyarakat.
“Kita harus menjaga kelestarian adat istiadat yang ada di masyarakat. Dengan harapan dapat tetap dipatuhi dan ditaati sehingga keharmonisan hidup di Bumi Serasan Sekate yang sudah beraneka ragam tetap terjaga,” ujarnya.
Dalam mengevaluasi tugas yang telah dilaksanakan oleh pemangku adat marga, kepada Ketua Forum Musyawarah Pemangku Adat Tingkat Kabupaten Muba agar selalu mengadakan pembinaan, pengembangan dan pelestarian adat istiadat yang hidup di tengah-tengah masyarakat supaya dapat dilestarikan kepada generasi yang akan datang.
“Untuk itu khususnya kepada pemangku adat marga dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan harus bekerjasama dengan camat, para kades serta lurah,” tambah Plt Sekda pada acara yang juga dihadiri Asisten III Setda Muba H Ibnu Saad SSos MSi dan Kepala Perangkat Daerah Muba.
Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Muba Ardiansyah mengatakan rapat tersebut bertujuan melestarikan sekaligus untuk mengevaluasi perkembangan adat istiadat dari 15 marga yang ada di Kabupaten Muba, baik kendala dan hasil yang telah dicapai selama 2017.
“Kegiatan ini diikuti sebanyak 64 orang peserta yang terdiri dari seluruh pengurus Forum Musyawarah Pemangku Adat Muba,” tuturnya.
Sementara itu Wakil Ketua Forum Musyawarah Pemangku Adat Muba DR (HC) Drs H Yusman Haris, mengharapkan bantuan dan dukungn dari Pemkab Muba, terkait pakaian adat juga rumah adat sekayu. (IZ)
Babat Supat, Infosekayu.com - Rangkaian acara semarak peringatan Tahun baru islam di kecamatan Babat Supat digelar secara meriah yang disambut baik oleh warganya. Seperti yang disampaikan oleh Camat Babat Supat, Marko Susanto, S.STP, M.Si mengatakan bahwa acara dimulai sejak pukul 8 pagi dengan diawali dengan pawai ta'aruf yang berpusat di desa sukamaju.


Pawai Ta'aruf dimulai dari rumah makan pagi sore dan finish di komplek kantor desa, dilanjutkan pembagian doorprize bagi peserta. 

"Peserta pawai sendiri dari tiap dusun dan seluruh perwakilan SD, SMP hingga SMA/SMK di sukamaju, Dan kami juga meminta maaf kepada pengguna jalan yang melintas karena antusiasme masyarakat mengikuti acara ini, sehingga menyebabkan kemacetan" ujar Marko.

Selanjutnya, kata Marko acara dilanjutkan pada jam 13.00 WIB yaitu giat pengajian memperingati tahun baru islam 1439 Hijriyah dan penyerahan bantuan kepada anak2 yatim di masjid nurul iman desa langkap.



"Jam 18.30 WIB dilanjutkan juga  giat pengajian 1 muharram bersama masyarakat di masjid al muhajirin desa Gajah Mati.," tambah Marko.

Marko sendiri bersyukur, semua kegiatan dapat berjalan lancar, dengan kegiatan ini semoga dapat menjadi syiar islam lebih meriah dan jadi sarana intropeksi diri agar kedepan lebih baik lagi.


Senada dengan Marko, Tahlil salah satu tokoh pemuda setempat merasa sangat senang dengan adanya kegiatan semarak Tahun Baru Islam seperti ini.

"Kami merasa senang, walau baru kali pertama kami berharap akan di lanjutkan untuk tahun-tahun berikutnya," pungkas Tahlil.  (iz)




Palembang, infosekayu.com - Prestasi membanggakan terus ditorehkan Musi Banyuasin, Sebelumnya PPLPD Muba cabang Sepak Bola tembus grand Final Menpora cup U-16 seri nasional, kali ini Putra-Putri terbaik Muba menjuarai ajang Final Pemilihan Duta Putra putri Sriwijaya Provinsi Sumatera Selatan tahun 2017 yang di dilaksanakan di Grand Ballroom Arya Duta Hotel, Minggu malam (10/09/2017).

Kupek Musi Banyuasin Mutiara putri zulfiah berhasil terpilih sebagai Putri Sriwijaya Provinsi Sumatera Selatan tahun 2017 dan Kuyung Musi Banyuasin Efransyah budiman tampil dengan elegen juara 2 harapan Putra. mereka berhasil menyingkirkan 40 peserta lainnya dari kabupaten/kota yang ada di Sumsel.


Mutiara putri zulfiah saat diwawancarai mengaku bersyukur dinobatkan sebagai putri Sriwijaya 2017 dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya. "saya mengucapkan terima kasih kepada orang tua, pemkab muba dan masyarakat yang telah mendukung saya sehingga terpilih menjadi duta pariwisata 2017", ucapnya.

Gubernur Sumatera Selatan diwakili Sekretaris Daerah H Nasrun Umar SH MM dalam sambutannya mengatakan Pemilihan ini bukan ajang untuk menang atau kalah. semua finalis​ memiliki indikator utama pemilihan para juri yaitu brain, beauty dan behaviour (kecerdasan, kecantikan dan perilaku).

 "Menang dan kalah hanya simbolis semata, Saya lihat semuanya berpotensi menjadi duta pariwisata Sumatera Selatan", ucapnya

Ia mengatakan Sumatera Selatan mempunyai potensi wisata yang sangat luar biasa dan harus di eksplorasi. "ditahun depan kita akan menghadapi Asian Games 2018, peran serta duta pariwisata sangat diharapkan dalam mempromosikan pariwisata dan budaya Sumsel ditingkat nasional maupun internasional", katanya. 

Sementara itu, Plt Sekretaris Daerah Drs Apriyadi MSi saat menghadiri kegiatan tersebut mengatakan pemkab Muba telah membekali dan mendukung putra-putri terbaik Muba untuk mengikuti ajang pemilihan duta pariwisata. Duta pariwisata merupakan ujung tombak dari Pemerintah untuk mempromosikan budaya dan mensukseskan Asian Games 2018.
"Alhamdulillah, selamat anak kita dari Muba atas nama Mutiara Putri Zulfiah berhasil menjadi Duta Pariwisata Sriwijaya", ucapnya

(humas)

Sekayu, Infosekayu.com -  Potret dua situs peninggalan Kerajaan Sriwijaya, yakni Candi Bingin Jungut dan Candi Teluk Kijing, di daerah aliran Sungai Musi menjadi bukti nyata betapa bangsa Indonesia agak kurang menghargai peninggalan masa lalu. Padahal, dari sejarah-sejarah tersebut kita dapat belajar tentang banyak hal berguna untuk masa kini dan masa mendatang. (27/08/2017)

Situs Candi Bingin Jungut terletak di Desa Bingin Jungut, Kecamatan Muara Kelingi, Kab. Musi Rawas sedangkan Candi Teluk Kijing terletak di Desa Teluk Kijing, Lais, Musi Banyuasin. Keduanya berada di dekat aliran Sungai Musi.


Tim ekspedisi Jelajah Musi 2010, Rabu-Kamis (10-11/3), menyempatkan diri melihat dua situs candi tersebut. Saat hendak menuju ke Situs Bingin Jungut, tim harus melalui jalan setapak dengan membelah semak belukar sepanjang 500 meter dari tebing Sungai Musi.


Tim sulit menemukan areal situs karena di sekitar lokasi Candi Bingin Jungut tertutup belukar dan akar pohon. Di lokasi candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya itu hanya tersisa satu batu dan puing-puing batu bata yang berserakan.


Satu batu yang masih berada di situs itu berwarna abu-abu kehitaman dengan ukuran panjang lebih kurang 80 sentimeter, lebar 40 sentimeter, dan tinggi 40 sentimeter. Di sekeliling situs tidak dibangun pagar pembatas ataupun penanda.


Menurut Umjoni (42), warga Desa Bingin Jungut yang mendampingi tim Jelajah Musi 2010 ke lokasi itu, sekitar lima tahun lalu ada delapan arkeolog asal Belanda yang melakukan penelitian dan penggalian. ”Tetapi, saya tak tahu apa yang dilakukan karena tidak melibatkan warga. Sebelumnya juga pernah dilakukan penggalian oleh tim dari Palembang,” katanya.


Teluk Kijing Kondisi di situs Teluk Kijing lebih kurang sama dengan situs Candi Bingin Jungut. Situs tersebut juga tertutup semak belukar dan pepohonan. Namun, situs ini lebih mudah ditemukan karena ada penanda menyerupai makam yang sudah diberi fondasi semen.

Untuk mencapai situs, tim harus berjalan kaki sekitar 200 meter dari muara Sungai Batanghari Leko. Situs ini terletak di kawasan perkebunan karet rakyat. Di areal makam, tim menjumpai sisa-sisa sesaji, berupa makanan dan bunga-bunga.


Menurut Faisal (26), salah seorang warga, lokasi ini sering dikunjungi warga setempat maupun pendatang. ”Makam” ini menjadi semacam situs yang dikeramatkan warga. Biasanya, mereka datang dengan maksud tertentu, misalnya saat kesusahan atau memohon kesembuhan atas penyakit.


Sudah digali Menurut Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti, pihaknya pernah melakukan penggalian di dua situs candi itu. Penggalian di situs Candi Bingin Jungut dilakukan tahun 1990, sedangkan di situs Candi Teluk Kijing tahun 2007.

Dari kedua lokasi, ditemukan dua patung arca Buddha dengan pahatan yang belum selesai. Satu di lokasi situs Bingin dan lainnya di Teluk Kijing. Patung yang ditemukan di situs Bingin sudah disimpan di Museum Balaputradewa, Palembang, beserta sejumlah pecahan batu bata.

”Arca temuan dari situs Teluk Kijing dikoleksi di kantor Balai Arkeologi Palembang,” katanya.

Balai Arkeologi Palembang juga menemukan struktur fondasi batu bata, yang diperkirakan merupakan bangunan candi. Kedua situs candi ini diperkirakan dibangun pada abad IX-X Masehi, pada era Kerajaan Sriwijaya. ”Biasa, candi digunakan sebagai tempat pemujaan umat Buddha,” ucap Nurhadi.


Sudah rusak Mengapa situs candi tidak diberi penanda? Nurhadi menjawab, lembaganya hanya memiliki kewenangan untuk penelitian. Pihak yang bertugas memelihara dan melestarikan situs adalah Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi.

Pihak Balai Arkeologi Palembang dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi mengakui sulit untuk merekonstruksi secara utuh kedua peninggalan sejarah itu. Alasannya, kedua bangunan sudah rusak parah saat ditemukan. Yang dijumpai hanya struktur fondasi yang terbuat dari batu bata. Informasi mengenai kedua bangunan itu juga sangat minim.


”Karena sulit untuk merekonstruksi, upaya yang bisa kami lakukan hanya sebatas mendokumentasi dan melakukan pencatatan lokasi. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pola-pola persebaran situs Kerajaan Sriwijaya,” katanya.


Pada era Kerajaan Sriwijaya, aliran Sungai Musi menjadi pusat aktivitas, mulai dari transportasi, perekonomian, hingga keagamaan. Untuk mendukung ritual keagamaan, penguasa Sriwijaya membangun candi pemujaan di beberapa titik di alur Sungai Musi.


Lokasi candi biasanya berada di muara sungai atau di tebing yang mudah dijangkau. Daerah muara sungai merupakan pusat aktivitas pada era tersebut. Setelah pola hidup masyarakat berubah dari sungai ke darat, daerah-daerah seperti ini mulai ditinggalkan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan situs-situs candi telantar dan tidak diperhatikan lagi. (mel)


http://telukkijing.blogspot.co.id/2013/04/arkeolog-candi-teluk-kijing-dan-candi.html
http://www.youtube.com/watch?v=6k6jHJbJgOU
http://arkeologi.web.id/articles/wacana-arkeologi/1151-bangun-kembali-kesadaran-sejarah
Sumber: http://cetak.kompas.com/